My new sounds:


HAI, PEREMPUAN BEDA DIMENSI.


JANGAN PERNAH PERCAYA DENGAN PERSAHABATAN

Pernah tidak kau berfikir tentang orang-orang yang menuhankan sebuah kebersamaan, yang selalu menjunjung tinggi arti kesetiakawanan. Mereka hebat. Tetapi bagaimana jika orang seperti mereka hanya menuhankan dan menjunjung tinggi itu semua lewat kata-kata. Seperti minyak wangi yang harum saat awal saja, tetapi seiring berjalannya waktu itu semua akan hilang, lenyap.

Pernah ada suatu ketika, saat matahari seakan takkan pernah berhenti bersinar dan kembali ke pelukan bumi pada senja hari. Aku mengenal bahkan sangat kenal dengan orang-orang yang telah kudeskripsikan di paragraf awal. Sahabat saya, tak perlu kusebut siapa dia. Sangat bahkan terlalu menjunjung tinggi arti setia kawan. Kami banyak melewati jarak dan waktu bersama hanya untuk sekedar bercerita, mengadukan masalah kepada laut, atau hal-hal konyol lain.

“Kesetiakawanan lebih berharga dari wanita, harta, dan tahta,” katanya. Aku hanya tersenyum dan mengiyakan apa yang ia katakan dengan lantang itu, walaupun sedikit terbersit di benak hal itu tidak akan pernah bisa secara absolut ia realisasikan. Aku adalah mantan idealis yang pernah dikhianati takdir, sekarang aku seorang realis dengan banyak perhitungan matematika dan fisika untuk seribu satu langkahku ke depan. Bukan lagi seperti dia yang idealis selalu memandang mudah semua masalah di hidup ini. Aku percaya pada pepatah lama yang berbunyi: Kalau kau menganggap matematika itu sulit, kau tak pernah mengenal bagaimana sebuah kehidupan berjalan. Saat kukatakan itu padanya, ia menyangkal, katanya aku terlalu memandang rumit hidup. “Kalau hidup selalu kau pandang dengan sebuah perhitungan, kau hanya bisa menghitung seberapa besar kebahagiaan yang kau dapat. Tidak untuk merasakannya sebagai sesuatu yang tak pernah bisa kau hitung,” tambahnya setelah puluhan sangkalan tentang pepatah yang kukemukakan. Sekali lagi, aku hanya bisa mengangguk dengan kata iya mengikutinya. Walaupun, sebenarnya tak pernah setuju. Aku bukan si pencari konflik yang suka mengatakan tidak pada sebuah perdebatan. Aku lebih suka berdebat sendiri bersama pikiran-pikiran impulsifku. Setidaknya dengan pikiranku sendiri aku bisa jujur tentang apa yang kurasa.

Dan pada suatu malam, kuingat betul ia mengatakan, “Jangan pernah sekali pun merubah apa yang kau pegang teguh selama ini dengan satu alasan: Wanita.” Aku tertawa—menertawainya sebenarnya. Bukan karena aku tak percaya pada kata-katanya. Aku tertawa karena muncul satu pertanyaan konyol di benakku: Kenapa tidak kau tujukan saran itu pada dirimu sendiri. Aku sahabatnya, mengenal ia sudah lebih dari empat tahun. Aku tahu bagaimana sikap dan mentalnya menghadapi wanita. Aku kenal bagaimana ia—yang pada awalnya adalah seorang idealis dan aktivis garis keras tentang kesetiakawanan—bisa berubah menjadi lelaki yang menggunakan kaca mata kuda, hanya memandang lurus pada satu arah. Wanitanya. Aku tertawa saja, bukannya aku iri tentang ia dan wanitanya. Hanya miris, melihatnya yang dulu begitu agung dan besar jika berbicara soal persahabatan dan kesetiakawanan bisa seratus delapan puluh, oh, mungkin boleh kukatakan tiga ratus enam puluh berubah.

Suatu siang, ia berkata, “Kalau satu naik motor, semua naik motor ya. Jadi kalau satu naik mobil, semua naik mobil. Setuju?”. Seperti biasa, hanya ya. Hari hari berikutnya berjalan seperti yang Tuhan harapkan, matahari terbit, tenggelam, malam yang dingin, hujan. Lalu sehari sebelum keberangkatan yang telah direncanakan, aku memastikan, “Jadi bagaimana naik motor bareng kita-kita nggak?” dengan yakin ia menggeleng, “Tidak, dia—pacarnya—pengen aku naik mobil sama dia.” Sebelumnya aku tahu jawabannya pasti akan seperti itu. Mungkin ia lupa akan kata-katanya saat siang itu, tentang kebersamaan. Tentang naik mobil atau motor bareng. Nyatanya apa, ia, yang membatalkannya sendiri bukan? Lalu bagaimana nasib teman-temannya yang katanya susah senang selalu sama-sama? Lalu bagaimana jika teman-temannya kepanasan naik motor sedangkan ia tenang dengan pendingin yang disetel dua puluh dua derajat celcius. Apa itu yang namanya peduli? Apa itu yang namanya kebersamaan?

Mungkin, aku takkan pernah memberitahunya tentang tulisan ini. Bagi kau yang membacanya sepele bukan. Tapi coba kau bayangkan dari awal yang sudah kuceritakan bagaimana ia selalu ingin kebersamaan itu ada di antara teman-temannya, bisa sebegitu mudahnya melupakan. Cukup adil untuk dia, apa adil untuk teman-temannya. Walaupun aku bisa selalu menerima tentang ini, bagaimana perasaanmu jika kau jadi aku? Bukankah janji seorang lelaki harus selalu ditepati. Biarlah apa yang ia inginkan selalu ia dapatkan, dan biarlah ia tak pernah sadar sampai suatu saat ia hanya memiliki wanitanya, dan ketika wanitanya pergi meninggalkannya, biar saat itu ia sadar bahwa seorang yang tak pernah pergi, seorang yang tak pernah berubah pandangannya saat kita jadi hina sekalipun adalah teman. Mereka selalu punya pelukan hangat di saat dingin menusuk tulang. Teman selalu punya tempat kosong saat seluruh kursi di kereta jejal penuh oleh manusia. Teman tak pernah melupakan, karena teman tak pernah punya kesempatan untuk menyakiti hatinya seperti wanita-wanitanya dulu. Semoga Tuhan selalu memberikan ia jalan yang ia kehendaki walaupun itu salah, semoga Tuhan selalu memberkatinya.

 

Salam.

Sahabatmu yang selalu mendoakan.

 


#speaker #active #still #life #instaphoto #instadroid #instalike #instadaily

#speaker #active #still #life #instaphoto #instadroid #instalike #instadaily


#my #friend #lovina

#my #friend #lovina


#secondhand #serenade #awake #guitar #cover

#secondhand #serenade #awake #guitar #cover


#my #friend #watch #bw

#my #friend #watch #bw


PHOTO: “Sometimes, a little smile can make this whole universe feels better”

PHOTO: “Sometimes, a little smile can make this whole universe feels better


PHOTO: “Duplicating is good for you”

PHOTO: “Duplicating is good for you”